Bab 5--Delusi apa ini?
Dunia ini yang terlalu sempit atau memang takdir yang ingin mencoba mengajakku bermain
dalam semesta penuh teka-teki dan misteri.
※
Apa aku sedang berdelusi? Mengapa matanya sangat mirip dengan -dia- dimasa lampauku?
Mungkinkah putrinya atau hanya sekedar kebetulan, sedari tadi melamun membuat sianak perempuan tak nyaman ditatap intens olehnya mencoba menepis tangan adeline yang memegang pergelangannya "lepaskan"ucap anak itu ketus."aku tidak nyaman".
mendengar itu spontan Adeline lepaskan tetapi masih setia menatap sianak perempuan
"Lututmu terluka,kemarilah biar kuobati"tawar Adeline bermaksud baik namun ditolak mentah-mentah sianak tadi dengan pedas "Kau bukanlah pemilik spirit pengobatan jadi jangan coba-coba menyentuhku"peringatnya seraya melempar tatapan mata sinis.
"Siapa namamu?"tanya adeline mengabaikan tatapan membunuh dari anak itu. "Ariana...kau bisa memanggilku riana".
mata hijau semu menatap heran adeline yang memasang wajah datar, Apa adeline hemat ekspresi atau memang minim dalam menunjukkan mimik? Karena sayang sekali wajah secantik itu tidak pandai berekspresi.
Sekali lagi adeline mengenggam tangan kecil itu yang kali ini tak ditolak maupun tertepis "Aku memang bukan pemilik spirit pengobatan tapi untuk luka sekecil ini aku mampu mengatasinya"ujar adeline berusaha menyakinkan, riana mengangguk meskipun masih imbang-imbangan.
Ditariknya riana untuk duduk sedangkan ia pergi kedapur mengambil kotak P3K kemudian kembali lagi dan langsung mengobati lututnya anak itu dengan perlahan seakan tak ingin menambah perih dilukanya, sianak perempuan memandang wajah adeline dengan seksama dan tersadar kalau gadis dihadapannya ini walaupun minim ekspresi tapi ternyata ia cukup baik, ini salahnya karena sudah menilai orang dari luarnya saja.
Seseorang menarik tangan adeline menjauhkannya dari Ariana. Adeline menatap siapa orang yang telah menariknya dan ternyata itu Emily dengan mata memincing tajam "Jangan berdekatan dengan dia Adel." Ujarnya seraya menyembunyikan Adeline dibalik tubuhnya.
Gadis yang berpakaian kaos putih dan celana santai milik emily,mengerutkan dahi bingung "Kenapa?"."Dia cuma gadis kecil".
Telunjuk Emily teracung mengarah Ariana yang sedari tadi sudah menatapnya dengan wajah mengeras berusaha untuk tidak mengoyak mulut seksi Emily "Dia bukan sembarang anak,tidakkah kau liat mata hijau semunya?dia bukan pemilik spirit tanaman sepertiku namun lebih dari itu" kata-kata emily penuh penekanan. "Dia berdarah campuran yang mengerikan,biar kutebak...dari keluarga selene,benarkan?." Lanjutnya sambil memberikan smirk pada Riana yang mematung.
Adeline tidak paham dengan situasi ini lantas bertanya "Campuran?dan keluarga selena?"mendengar pertanyaan itu Emily menghembuskan nafas dan mulai menjawabnya untuk menjelaskan.
"Darah campuran yaitu seperti seorang pemilik spirit keturunan Dewa menikah dengan penyihir lalu lahirlah anak yang memiliki kekuatan besar seperti monster,biasa ditandai dengan warna mata yang redup seperti dia." tunjuk Emily sekali lagi. "Padahal kabarnya keberadaan penyihir dan pemegang spirit dewa sudah tidak ada alias punah...tapi aku percaya karena dihadapanku ini adalah hasil keturunannya." Mendengar penjelasannya Emily, membuat Adeline tersadar akan satu hal kalau ia dan ariana memiliki kesamaan yaitu kekuatan sebesar monster.
"Lalu ada apa dengan keluarga Selene?." tanya adeline namun diabaikan oleh Emily, entah karena tidak dengar atau memang sengaja tak iingin menjelaskan.
Ariana menggeram marah lantaran sedari tadi latar belakangnya telah dibongkar habis-habisan oleh Emily membuatnya berniat melenyapkan gadis berkacamata itu tetapi ia urungkan saat adeline mengatakan kalimat yang membungkam Emily dan Ariana "Dia tak pernah menginginkan-nya takdirlah yang membuatnya harus memiliki kekuatan sebesar Monster."
Wanita berkacamata itu menatap Adeline dengan dahi berkerut "Kau tidak mengerti Adel," Ucapnya "Tapi yasudahlah sekarang cepat obati dia dan bantu aku menyelesaikan semua pekerjaan yang kau mampu lakukan dengan kondisi tidak sehat itu." Emilypun melengang pergi meninggalkan Adeline dengan Ariana dan tidak melanjutkan kata-katanya yang tanggung.
Ia kembali mengobati Ariana, Diantara mereka pun tidak ada sepatah kata yang terlontar untuk membuka pembicaraan. Setelah selesai Adelinepun menyusul Emily didapur untuk membantunya meninggalkan Ariana sendiri disana yang menatap kedua kakinya sambil membentuk lengkungan bibir culas.
"Hahaha...aku takkan tertipu." Gumannya sambil terkekeh kecil.
|
|
Sudah seminggu gadis itu berada dirumah Emily untuk menumpang seraya bekerja ditempat yang sama dengannya, Hitung-hitung penganti uang sewa. Ketika siang ia akan bekerja dicafe tetapi malam adeline harus dirumah sambil menunggu Emily pulang.
Dia ingin ikut bekerja diBar bersama Emily namun dilarang karena disana bukanlah tempat yang baik untuk anak remaja biasa tanpa spirit seperti adeline karena akan ada banyak sekali Pria-Pria hidung belang yang akan menggodanya, dan bagi adeline pasti ia takkan bisa melindungi diri sebab hanya gadis biasa.
Itulah alasan Emily tidak mengizinkannya untuk ikut bekerja disana.
Suara decitan pintu begitu nyaring membuat gadis yang sedang duduk melamun diatas tempat tidur segera berlari mendatanginya "Kau sudah pulang." Ujarnya sambil mencoba melengkungkan bibir bermaksud menjadikan senyum manis namun gagal karena begitu tidak cocok, jatuhnya malah seringaian.
"Berhentilah untuk mencoba membuat sebuah senyum kalo jadinya bakalan semengerikan itu, kau mirip seperti badut pembunuh." Ungkap Emily sambil menggelengkan kepala melihat tingkah aneh adeline. "Setidaknya aku mencoba." balas Adeline datar.
Mata Emily berkeliling disetiap penjuru rumah yang sudah mengkilap bersih dan rapi bahkan bibirnya pun kini terbuka lebar tak percaya "Aku membersihkannya." Suara itu terdengar membanggakan diri "Ini kulakukan agar kau mau mengizinkanku untuk ikut ke Bar." lanjut Adeline membuat sipemilik rumah memutar bola mata malas karena ternyata semua ia lakukan semata demi Bar.
"Tidak."
"Kumohon"
"Tidak!."
"Separuh gajiku dicafe untukmu"
"Hmm...Tidak"
"Semuanya"
"Baiklah." mendengar itu kedua tangan Adeline terangkat keatas lalu mengumankan "Yes!Akhirnya." melihat itu Emily terkikik geli dan berjalan menuju lemari kemudian membukanya untuk memilih baju yang pas bagi Adeline.
Sebuah kaos hitam polos dan celana jeans ketat ia pilihkan untuk Adeline yang kini menatapnya bingung, dapat dilihat dari kepalanya yang memiring ke kanan lalu mengedipkan mata cepat.
"Pakai ini." ujar Emily seraya melemparkan baju kearah sigadis yang langsung menangkapnya. "Ini? Ku rasa lebih baik berikan aku daster ketimbang baju dan celana ini." Ungkap Adeline menunjukkan rasa tak suka pada sepasang baju laknat ditangannya.
Emily mendengus kesal dan mengancam "Pakai atau tidak sama sekali." Spontan Sigadis yang memegang bajunya langsung putar arah membelakangi Emily menuju kamar mandi untuk bersolek sebelum Emily berubah pikiran, Melihat tingkah absurd gadis itu kepala wanita berkacamata merasakan pusing sehingga dipijatnyalah batang hidung bak perosotan itu dan berguman "Tak kusangka ternyata diamnya untuk menutupi kebodohan yang dia miliki." .
|
|
|
¶ At Different place--
"Aku pulang."Ucapnya saat memasuki rumah besar nan mewah yang disambut hawa dingin dari seseorang pria disofa sana, Ia duduk seraya melipatkan tangan dan kaki kemudian memasang tatapan tajam pada Anak perempuan dihadapannya yang baru saja pulang itu.
Sedangkan yang ditatap sudah keringat dingin bahkan merasa sesak seakan udara disekitarnya menipis hanya karena tatapan itu "Riana,kau pergi tanpa izin bahkan tidak membawa pengawalkan?!." Tanya si pria dengan intonasi tinggi membuat sianak perempuan terkejut dan langsung menatap kakinya sendiri lantaran tak kuat beradu pandang "Maaf Kak..."ucapnya sangat pelan namun tiba-tiba dia teringat sesuatu tentang pertemuannya dengan si Keturunan Thanatos dicafe tadi.
"Aku menemukannya kak!."serunya Riana yang membuat salah satu alis Pria—kakaknya itu naik meminta sebuah penjelasan "Dia...Gadis yang membunuh Ayah dan Ibu."seketika kedua tangannya terkepal kuat dan urat didahinya terlihat jelas lantara dia sedang menahan emosi.
Baru saja ingin mengatakan Dimana ,ucapannya terpotong Riana. "Lupakanlah dendam itu kak".
"Apa maksudmu?."tanyanya seraya memincingkan mata
Seketika Riana diam, saat Ia sadar akan sesuatu tentang sigadis itu.Hawa kematian tidak terasa saat dekat dengannya yang ada malah rasa nyaman dan kini dia tidak percaya dengan mitos itu kalau keturunan Thatanos membunuh dengan sadis yang mengantarkan jiwa-jiwa keneraka paling bawah.
Sedangkan dibuku catatan penyihir milik almarhum ibunya tertulis kalau Keturunan Thatanos itu membawa kedamaian dari surga dan Riana lebih percaya dengan tulisan ibunya itu karena terbukti dari sikap dan hawa kedamaian Sang Keturunan Thatanos tersebut tadi dicafe.
Suara berat kakaknya membuyarkan lamunan Riana "Dengar Riana...Makhluk seperti dia harus dimusnahkan karena banyak memakan korban...Dia adalah pembunuh berdarah dingin,kalau kau melihat bagaimana cara dia membunuh ribuan orang dalam sekejap dengan sadis maka kau akan sadar betapa berbahayanya dia." Jelasnya membungkam si Adik "Dan ingatlah kalau dia yang membunuh Ayah dan ibu ku." Lanjutnya.
Riana menatap sendu sang kakak lalu membalas ucapannya "Legenda dari penasehatmu itu salah kak,Ibuku lah yang benar tentang siketurunan Thatanos itu." Ia berusaha menyakinkan sedangkan yang diyakinkan malah mengertak marah lalu membentak siadik "Ibumu Cuma penyihir kelas rendahan yang menggoda ayahku membuat ibuku memutuskan untuk mati bersama dengan cara dibunuh oleh Keturunan Thatanos hanya karena ia merasa ibumu lebih diperhatikan...Ayahku hanya milik Ibu seorang meskipun ia menikmati kebersamaannya dineraka sana,jadi aku gak punya alasan untuk percaya dengan tulisan ibumu yang bisa saja palsu untuk berusaha menyingkirkanku juga seperti yang ia lakukan pada kedua orang tuaku Hahaha..."Tawa itu menggelegar diseluruh ruangan.
kata-kata menyakitkan sikakak membuat hati Riana terasa dicabik-cabik padahal ia hanya ingin tidak ada kematian lagi karena setelah ibunya meninggal karena sakit, hatinya berusaha menegaskan tak turut ikut campur dalam dendam sikakak yang begitu menggebu terhadap sigadis dicafe tadi.
Apapun masalahnya jika masih bisa berdamai tanpa harus mengikut sertakan bunuh membunuh kenapa tidak?. Sungguh Riana tak mengerti dengan jalan pikiran kakaknya itu, ia pun berjalan meninggalkan pria disofa sana menuju kamar dan menangis sejadi-jadinya setelah dipermalukan dengan hebat oleh kakak tirinya.
Satu alasan ia bersikeras melindungi Adeline karena sentuhannya begitu lembut mirip dengan Allmarhum sang Ibunda tercinta.
"Bu...Riana rindu hiks...hiks." Tangisnya direndam oleh bantal hingga ia tertidur dalam keadaan mengenaskan yaitu airmata mengering menjadikan kerak dipipi lalu mata sembab,hidung tersumbat,rambut acak-acakan dan kepala pusing seakan dihantam batu sebesar batu giling cabai.
itulah keadaannya malam ini yang akan berlanjut hingga besok pagi.
Yang diruang tamu tadipun sudah berhenti tertawa dan digantikan oleh geraman penuh amarah, lantaran ia telah gagal membunuh si keturunan Thanatos itu malah yang mati adalah ajudannya. Ternyata untuk membunuh gadis itu tidaklah segampang yang ia kira, ini juga salahnya karena terlalu meremehkan siketurunan dewa tersebut membuatnya meremas sebuah Map berisikan data-data lengkap siAdeline.
Sebelum Riana pulang, ia sedang membaca map itu dan tertegun melihat isinya tentang
Adeline yang hanyalah gadis biasa namun memiliki banyak prestasi disekolahnya yaitu menjadi pengrajin yang jika menyentuh benda rusak maka akan kembali seperti baru, pandai Self-defense, memiliki nilai hampir sempurna disetiap mata pelajaran lantas membuat sipembaca memincingkan mata saat sadar kalau mental dan fisiknya sangat kuat tak sesuai luarnya yang tampak rapuh layak kerupuk.
ia membuka halaman selanjutnya yang mendapati kalau gadis itu bekerja di sebuah toko roti terkenal, hal itu menimbulkan sebuah pertanyaan besar
--Gadis yang hampir mendekati kata sempurna hanya bekerja ditoko roti?--
Padahal ia yakin banyak pekerjaan lain sedang menunggu apalagi jika dibarengi oleh bakat-bakat sebagus itu. Apakah gadis itu berusaha menyamar menjadi orang biasa demi menutupi kejadian di masa lampaunya?.
Semua teka-teki ini membuatnya bingung terutama kematian sang Ajudannya yang mati kecelakaan dihutan dalam keadaan mobil terbakar dan tubuh yang hangus terlebih ketika diotopsi tidak bisa karena semua tubuhnya sudah terbakar habis-habisan.
Memikirkan ini semua membuat kepalanya ingin meledak.
"Sebenarnya seberapa bahayanya dirimu Monster?." ucapnya seraya memijit pelipis berusaha mengurangi sakit kepalanya.
TBC---
Keren kaliii cerutanya lanjutin bab 6 dong hehe ������������������������
BalasHapusDitunggu bab selanjutnya
BalasHapusDitunggu bab selanjutnya
BalasHapusKasihan sirianany ;,(
BalasHapus