Jumat, 17 Mei 2019

Bab6--Hidup terlalu keras
Bab 6—Hidup terlalu keras

Bukan aku yang menginginkan takdir seperti ini, yang menoreh banyak luka dan merebut jiwa-jiwa tak berdosa mereka. Memicu ribuan dendam setelah malam penuh tangis dimasa lampau tersebut.
keberadaan mereka ada disekitar namun tak dapat kuselisihkan karena sikap manisnya terlalu membutakanku.
Apa yang harusku lakukan?...wahai tuhan.
yang memberi takdir penuh liku dan luka semu hingga membuat diri ingin mati saja karena tak lagi merasa sanggup untuk terus menjalaninya.
Puaskah engkau wahai sang pencipta?
Dapat kudengar tawamu begitu nyaring saat menyaksikan ku menghadapi coba-cobaanmu.

|

|
|
Suara ketikan computer terbetik diruangan serba putih ini, dimana ada dua pria berparas tampan namun memiliki kantung mata layaknya panda sedang meretas sesuatu yang mereka temukan setelah membakar mayat ditengah hutan semalam.

Yang satu dengan iris mata merah dan dahi penuh kerutan sedang membolak-balikkan sebuah data mengenai pria yang ia bakar tadi "Bil...Billy? Gimana dengan analisismu? Dimana dia kerja dan siapa pemimpinnya?" tanyanya pada pria bernama Billy yang sedang memegang pelipis dan menatap computer dengan mata biru terangnya penuh lelah, ia pun menjawab seraya menggerutu karena hasilnya nihil "Tidak bisa ditembus, pertahanan mereka begitu ketat membuatku susah membobolnya."
Sebuah tepukan dipundak Zayn membuatnya tersentak "Beristirahatlah, kalian sudah berjam-jam seperti ini...aku yakin Adeline akan baik-baik saja mengingat keahliannya dalam bela diri." Ucap seorang gadis berambut sebahu berusaha menenangkan kedua pria yang sedang frustasi saat mencari data seorang Ajudan bernama Gerald yang tak tertulis dengan siapa dan dimana di bekerja hanya ada nama dan umur ditanda pengenalnya membuat mereka kesusahan untuk bisa mengumpulkan datanya dan mencari Adeline.

"Saskia benar Bill, mari kita istirahat dulu." Ujar Zayn membetulkan ucapan gadis bernama Saskia itu, namun dibantah oleh Billy "Nanti!tanggung loh sedikit lagi kita dapat datanya." Membuat kepala Saskia dan Zayn menggeleng saat mendengar kegigihan Billy dalam mencapai data ajudan itu.

   "Meskipun tuh anak pandai bela diri tapi dia paling bodoh dalam menghindari diri dari masalah-masalah yang menimpanya karena kecerobohannya sendiri." Ingat Billy kepada mereka saat menyadari tentang ketidaktelitian Adeline dalam menyelesaikan masalah. "Kalian lupa kalau dia menghajar Putri sianak kepala sekolah dengan mengSmack-downkannya hingga terkena SPO bahkan hampir diBlacklist dari sekolah manapun kalau gak karna kita bantu." Ketiga manusia didalam ruangan itu kembali menerawang kejadian 1 tahun lalu.
Dimana Adeline ditantang oleh Putri--anaknya kepala sekolah untuk melakukan adu bela diri agar menunjukkan siapa yang paling hebat dan patut dihargai disekolah itu lantaran alasan sebenarnya Putri iri kepada Adeline, karena ia memiliki banyak prestasi serta selalu dibanggakan oleh pihak sekolah membuat darahnya mendidih dan mengkal hati. Adeline pun menerima tawarannya tanpa memikirkan konsekuensi dari pilihan gegabahnya.
Mereka bertarung dalam ruangan khusus yang membuat para petarung tak dapat menggunakan Spirit oleh sebab tertera peraturan yang hanya memperbolehkan bertarung dengan fisik.
   Putri tersenyum senang seakan sudah pasti akan menang namun ketika pertarungan baru saja dimulai ia sudah terbanting dilantai dengan keadaan bengong lantaran tak percaya saat Adeline bergerak dengan begitu cepat layak kilatan petir dalam membanting tubuhnya dengan amat-teramat sangat kuat.

Setelah pergulatan singkat itu selesai, Gadis berambut putih tersebut segera keluar dari ruangan dan kembali kekelas layak tak ada masalah padahal surat D.O dan Blacklist sudah menanti.

Banyak yang membicarakannya sampai ketika Zayn mendengar kabar itu. Ia langsung meminta pertolongan Billy dan Saskia untuk membatalkan Adeline diBlacklist dari seluruh sekolah dengan cara bermain lidah atau lebih tepatnya menghasut. Ketiga manusia tersebut masuk keruangan kepala sekolah dan mengatakan dia akan rugi jika kehilangan murid pintar dan berbakat seperti Adeline.
Alasan mereka yakin mengatakan hal itu setelah selama ini banyak sekolah atau Universitas lain yang meminta kerja sama dengan sekolah mereka hanya karena melihat kemampuan berfikir Adeline yang diluar nalar meski ia tidak memiliki Spirit alias gadis biasa.

Dan akhirnya sang kepala sekolahpun menggurungkan niatnya untuk mengeluarkan Adeline kemudian kembali menetapkannya menjadi seseorang yang telah membanggakan sekolah lalu mengabaikan putrinya sendiri yang berasa dirumah sakit dengan keadaan mengenaskan.
"Takk!"
Suara tepukan jidat Saskia membuat Zayn dan Billy kembali ke alam sadarnya "Astaga aku lupa soal itu, Kau benar! Meskipun otaknya pintar dan memiliki IQ diatas rata-rata tapi dia gak pernah mau berfikir panjang dalam bertindak yang membuatnya selalu mengundang ribuan masalah yang berarti hanya berlaku dalam belajar bukan kehidupan sehari-hari." Ujar Saskia frustasi setelah mengingatnya.
Kedua pria itu menatap Saskia lalu mengangguk setuju "Maka dari itu aku khawatir sama dia." Timpal Billy. Gadis berambut sebahu merasa perlu menyelidikinya pelan-pelan agar bisa mendapatkan sebuah petunjuk "Guys...Dimana kalian mendapatkan surat ini dan tanda pengenalnya?." Tanyanya
"Dikantongnya." Balas Zayn sedangkan yang satu lagi hanya menyimak
Saskia membolak-balikkan surat itu lalu memincingkan mata saat mendapati sebuah simbol
–ך—
L-- terbalik diujung surat tersebut. Setelah melihat itu ia langsung mengambil alih computer Billy dan mengetik Simbol tadi lantas ia menemukan sebuah Sistem Organisasi gelap yang dipimpin oleh pemuda bernama Logan Adham tanpa dicantumkan fotonya demi menjaga keamanaan wajah ketuanya.
Membuat Billy dan Zayn saling bertukar pandang dengan mata yang berkaca-kaca dan serentak mengatakan
"Saskia! You are the best!." Mendengar itu wanita berambut sebahu dan beririskan mata biru terang terkikik geli.
merekapun kembali melanjutkan pencarian Adeline setelah mendapatkan secuil harapan dari symbol tadi.
|
|
| At different place|
2 orang wanita sedang bekerja dibar yang satu menjadi pelayan antar minuman dan satu lagi sebagai kupu-kupu yang menebarkan pesonanya dini hari membuat para pujangga hingga pria ber-istri menjulurkan lidah tergoda saat memandang tubuh indahnya.

 Dentuman musik begitu memacu membuat tubuh mempaskan diri dengan bass-nya, suara-suara sorakan saat menonton wanita berbikini sedang bergelut manja ditiang terdengar begitu keras dan senang.
"Pelacur satu ini memang yang paling mantap."Puji seorang pelanggan dengan wajah merah padamnya menunjukkan diri kalau ia sedang mabuk yang didengar oleh gadis berambut putih yang memakai kaos hitam dengan celana jeans ketat sehingga menonjolkan setiap lekuk tubuhnya. Dia mendecak tak suka "Tch!." Namun pelan dan tertelan dentuman musik bar sehingga tak terdengar.

Dia tak habis pikir kalau inilah pekerjaan Emily sebenarnya. Begitu kotor yang bagi sebagian orang ini menjijikan namun bagi Adeline bukan soal itu melainkan ia menyayangkan fakta bahwa wanita secantik Emily dan berbakat dalam penyembuhan bisa terjungkal kedalam dunia fana ini? dimana tempat ia menjajahkan diri dengan berbalaskan uang.
Ingin sekali ditariknya Emily yang sedang bergelut dengan tiang itu keluar dari tempat ini namun apa dayanya yang baru kenal Emily tapi sudah berani memprotes pekerjaannya.

Dirinya hanya bisa menarik nafas dalam bersabar agar tahan untuk  tetap berada disini demi menemani Emily. Dia tidak boleh membiarkan seorang wanita sendirian ditempat laknat ini, bisa-bisa ia diperkosa dan dibunuh.

Harusnya Adeline harus lebih memikirkan diri sendiri yang baru mengenal dunia fana ini karena sekarang  pergelangan tangannya ditarik oleh pria mabuk tadi bahkan ia mencoba mendekatkan diri ke Adeline untuk bisa meraih tengkuk leher mulusnya mencoba merangsang gadis itu yang langsung dicengkram balik oleh Adeline "Ayolah bermain denganku...Aku bisa membayarmu berapa saja." Tawarnya membuat telinga gadis itu terasa ternodai sehingga dipitingnya tangan pria itu kearah belakang punggungnya "Sial!!Pelacur tak tau malu!lepaskan aku!." entah mengapa pria itu tersadar akan satu hal tentang gadis yang sedang memelintir tangannya ini, kalau tenaganya 3x lipat melebihi dia yang seorang pria.
"Lepaskan dia Adel!Apa yang coba kau lakukan pada pelanggan kita!." Pekik madam sipemilik bar yang biasa menjual para wanita disini untuk dicicipi para pria hidung belang.

Dilepaskannya tangan laknat itu dan diapun sebenarnya jijik menyentuh pria tadi jika bukan karena ingin memberikan sebuah pelajaran beharga untuknya, "Dia menyentuhku dengan tangan penuh dosanya...dia begitu menjijikan." Ucap Adeline datar, membuat mulut madam terbuka lebar tidak percaya dengan kata-kata sadis gadis itu terhadap pelanggannya.

Madam berjalan kearah Adeline hendak menamparnya setelah ia mempermalukan pelanggannya namun saat tangan besarnya terayun ingin mendarat dipipi mulus gadis itu sesuatu terjadi

PLAK!!--

     Semua orang dibar terdiam bahkan musik pun terhenti saat tangan itu meninggalkan bekas dipipi Emily bukannya Adeline.
 Wanita berbikini tersebut sedari tadi sudah memperhatikan pertengkaran mereka dari awal. Sudah ia duga membawa Adeline bukanlah hal yang bagus karena gadis lugu sepertinya hanya akan merusak suasana dibar. Saat madam menuju gadis itu Emily langsung kesana juga demi melindungi Adeline yang hanya diam menuju mendaratnya sebuah tamparan.
"KENAPA KAU MELINDUNGINYA!?KAU MAU DIPECAT!?." Teriakan madam begitu menggelegar diseluruh ruangan bar membuat banyak pasang mata menatap seru kearah mereka.
Emily tertunduk sambil memegang pipinya yang memanas bercampur antara sakit dan airmata.
Adeline masih tercengang lantaran dia tak percaya ketika Emily datang untuk melindunginya.
Siwanita berbikini akhirnya mengangkat kepala dan mulai membuka suara
"Aku K E L U A R." 
Ucapnya sambil mengeja perhuruf kata -keluar- dengan wajah basah penuh airmata dan sebuah senyum lebar kearah siMadam. Setelah mengatakan itu iapun lekas menarik Adeline keluar dari bar tanpa memperdulikan tubuh yang hanya berbalut bikini membuat Adeline tak sampai hati apalagi semua ini disebabkan karenanya.

Diapun membuka kaos hitamnya untuk Emily yang menyisakan Tank-top putih, "Apa yang kau laku..." Tanya Emily terpotong saat gadis itu menjulurkan bajunya dan mengatakan "Pakailah...aku tidak mau kau menjadi tontonan orang-orang dengan bikini laknat itu."
melihat tingkah aneh gadis itu sungguh membuat tawa Emily pecah.

"Hahaha...kau benar-benar aneh." Ujar Emily seraya memegangi perutnya
"Diamlah dan cepat pakai."
"Pakailah , aku tidak membutuhk..."
 "Apa itu?...sebuah lambang Dewa ditengah-tengah dadamu?." 
Kini matanya tertuju pada sebuah lambang yang tak asing baginya, Sedangkan jantung Adeline memacu seolah-olah ia sedang berlari berkilo-kilo meter. Inilah alasannya ia benci pakai baju yang memperlihatkan lambang sialannya didada itu.

Emily mencoba menyentuhnya namun ditepis Adeline "Jangan sentuh." Ujarnya dingin

"Kau keturunan dewa ?!." pekik Emily

Tbc-----

Hallo para reader's 😊gambar yang ada diblog ini adalah ilustrasi untuk Lily dan Adeline. 
Maaf ya karena lama up,Mimin lagi sibuk mau mempersiapkan diri buat ujian akhir yang menguras otak dan tenaga. :( 
Dan mumpung lagi bulan puasa untuk menunggu buka mimin mau up 2 chap sekaligus setiap seminggu sekali.



Selamat menikmati~jangan lupa komen dan share 😇

Ilustrasi Zayn dan yang lain masih otw 🌚.

Assalamualaikum selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang muslim❤

Menulis sebuah cerita fiksi/khayalan penuh emosional dan konflik yang biasa terjadi dikehidupan nyata. aku penulis bebas,memiliki imajinasi luas dan juga masih remaja bila prosa atau majas bersalahan mohon letak kritikan halus agar bisa menjadi lebih baik. salam cinta--Segala kisah--

2 komentar:

Kontak Penulis

Contact Us

Diberdayakan oleh Blogger.