Bab 4--Hidup penuh dusta
Bab 4--Hidup penuh dusta
Aku sedang berdusta,tidakkah kau menyadarinya?
atau dirimu itu sedang berpura-pura tak sadar?
tak apalah yang penting permainan kehidupan ini tetap berjalan sesuai kemauanku.
|
|
|
3 jam yang kuhabiskan dalam dunia gelap sungguh tak memuaskan membuat hati menjadi sedikit kesal lantaran harus kembali lagi kedunia penuh warna namun suram,
Kaca dihadapan memperlihatkan lekuk tubuh ramping yang berbalut gaun hitam kekurangan bahan dibagian belakang sehingga mengekspor sebagian punggung indahku.
Percayalah kini malu ku sudah hilang ditelan rasa pasrah dalam keadaan tak memungkinkanku untuk memakai gaun lain selain ini, ku sapu rambut putih kebelakang telinga sambil menatap wajah didepan cermin, bukan untuk berkaca namun sedang memikirkan suatu rencana matang-matang yang mengandung resiko sangat fatal.
Bibirku berguman pelan didepan kaca yang menampilkan wajah tersenyum lebarku disana padahal disini bibirku sedatar jalan tol. “Apa hanya itu caranya?”tanyaku seraya menatapnya yang semakin memperlebar senyuman dan merubahnya menjadi seringaian penuh kelicikan
”Tentu saja…lakukan saja seperti kataku kalau ingin membatalkannya”jemarinya bertautan saling mempermainkan menandakan kelicikannya sudah tak perlu dipertanyakan lagi, kutatap dia selekat mungkin dan menghembuskan nafas kasar saat melihat sifat pembunuhnya menguak.
Seperti inikah wujudku jika tabiat pembunuh menguasaiku,tidak bisa terbayangkan betapa mengerikannya diri ku sendiri--
”Atau kau ingin ku gantikan adeline?”tawarnya langsung mendapat penolakan dariku ”Tak perlu Lily,aku mampu melakukannya sendiri” Lily--alteregoku menatap tak senang tapi ditutupinya dengan wajah sama datar sepertiku,“Well…baiklah” ucapnya dan mulai memudar,mengembalikan bayangan kacaku yang sesungguhnya
Dan seandainya kuizinkan lily menguasaiku lagi niscayalah pasti akan ada kematian massal nantinya, sungguh aku tak mau itu terjadi.
Lonceng ruang tamu dirumahku berdenting kuat hingga memekakan telinga, suara itu menandakan kalau ini adalah waktunya untuk berjumpa dengan tunanganku itu, kucekam dada mencoba menenangkan hati supaya tak terlalu berdegup kencang terlalu bersemangat untuk melakukan rencana fatal itu.
”Kuharap ini berhasil”doaku didalam hati.
Langkah kaki menuju ruang tamu diiringi suara tapaknya karena high heels setinggi 7 cm membuat kakiku sedikit merasa pegal lantaran tak biasa.
Disana
dekat perapian
seorang pria tua buncit duduk bersama orang tuaku
mereka mengobrol dengan akrab layak keluarga harmoni namun saat melihat itu hatiku tak lagi damai lantaran berdegup kencang dan ketakutan, ternyata benar yang mereka jodohkan padaku adalah pria tua.
Aku mendatangi mereka, ”Ah…ini dia tuan ,putri kami”ibu memperkenalkan dan menyuruhku untuk salaman namun enggan kulakukan lantaran jijik menyentuh kulit pria tua itu,namun tampaknya ia tak masalah justru memasang senyum pura-pura ramah lalu mengajakku untuk segera kerumahnya “Mari kita pulang”
”Pulang?”tanyaku bingung
”Tentu saja pulang kerumah yang disana karena kau takkan lagi tinggal disini,acara juga akan dimulai disana”jelasnya membuatku terpatung plus terbodoh secara bersamaan,secepat itukah?bahkan kami belum menikah “Tapi tua…”ucapku terpotong saat tangannya menarikku keluar dari rumah dengan sedikit kasar bahkan ia tak pamit dahulu pada ibu dan ayah, dimana attitudenya?.
tanpa perasaan dicampakkannya aku kedalam mobil dibangku depan sampingan dengannya dan langsung tancap gas menjauh dari bangunan sederhana itu,sedangkan aku?hanya diam berartifisial menurut saja menunggu waktu yang tepat untuk melakukan itu.
Tidak ada pembicaraan diantara kami didalam mobil mewah nan luas ini membuatku merasa semakin mantap untuk bisa melakukannya.
Entah dimana kami tapi yang dapat ku lihat hanyalah hutan belantara,hatiku makin bergejolak senang karena rencana akan semakin berjalan mulus,setidaknya aku akan aman.
Pertama ku tatap tubuh buncit berbalut tuxedo hitam itu
Kedua-kuraih kerahnya sehingga membuat kami saling bertatapan
dan terakhir aku tersenyum miring
lalu berujar “Matilah kau!”
sebuah pisau yang kuselipkan dilingerie paha,ku tancapkan pada perutnya kemudian pisau itu ku paksa naik menuju jantung untuk merobeknya agar cepat melayang jiwanya tanpa harus merasakan sakit yang lebih, matanya terbelalak dan mobil menjadi tak stabil hingga kami menabrak sebuah pohon dengan menghantamnya sangat kuat sampai mobil mahal inipun tak lagi berbentuk.
Asap menyembul dari mesin yang rusak itu dan menerobos indra penciumanku membuat paru-paru terasa perih “Uhuk!!Uhuk!!” menyebabkan batuk parah,
Sedari tadi aku melindungi kepala dengan kedua tangan agar tak terbentur dan pingsan, kemudian ku tinjau ke sampingku yang mendapati pria buncit itu sudah tewas dengan sebuah kaca jendela mobil tertancap dari hidung menembus sampai kemata, aku meringis ngilu membayangkan jika berada diposisi itu.
Tak ingin berlama-lama segera kudobrak pintu mobil yang macet akibat benturan dan akhirnya terbuka jua namun saat hendak ingin keluar tak sengaja ku lirik kursi pengemudi tersebut dan ada sepucuk surat di kantong pria buncit itu yang menarik perhatianku, tangan meraihnya dan membawa benda tersebut keluar bersamaku meninggalkan mayat itu disana.
Jalanku tertatih-tatih saat luka memenuhi tubuhku terlebih lagi diarea dahi dan lengan yang sudah mengeluarkan banyak cairan merah kental amis nan anyir,mungkin benar aku tak tewas dimobil seperti sibuncit tapi tetap saja jika darah ini terus keluar tanpa henti maka bakalan mati juga karena kehabisan darah.
Aku mengumpat “Shit”
sementara itu keadaan disekeliling benar-benar tidak mendukung karena disini tidak ada orang ataupun rumah dan siapa juga yang mau tinggal ditengah-tengah hutan belantara seperti ini?
Dan lagi pandanganku sudah berbayang-bayang ketika melihat hutan yang gelap gulita tanpa cahaya selain sang rembulan malam,aku yakin ini efek dari darah yang mengalir sedari tadi.
Entah kemana tujuanku berjalan dan juga sudah sejauh apa langkah tertatih ini melaju yang ku tahu kini ia sudah letih tak lagi sanggup melanjutkan jadi kupilih untuk mengistirahatkannya sejenak, kurebahkan tubuh di tanah dan bersandar pada pohon besar,kulirik surat yang berada digenggamanku.
Seketika rasa penasaranku mencuat lalu juga jariku yang sudah gatal ingin membuka isi surat itupun perlahan merobek sisi atasnya kemudian mengeluarkan isinya,kubaca perlahan sambil berguman pelan
”Jemput gadis bernama adeline bruna dialamat xxxxxxx bawa dia kerumah pemilik perusahaan disana secepat mungkin…bagusnya jangan sampai dia lecet” tertera alamat dan fotoku disana membuatku bingung dan mencoba untuk memahami isinya. tiba-tiba aku tertegun
ketika paham dengan isinya yang berarti pria buncit tadi bukan calon suamiku melainkan bawahannya,alih-alih membebaskan diri yang ada sekarang aku akan menjadi buronan bahkan kembali menjadi seperti dulu yaitu pembunuh.
Lagi lagi?aku membunuh orang yang tidak bersalah,hatiku meringis perih dan pilu seakan luka lama terbuka lagi.
”harusnya aku tak mempercayaimu lily”ucapku frustasi berharap alteregoku bertanggung jawab dengan semua kejadian mengerikan ini, namun tak sepatah katapun keluar dari lily didalam lubuk hatiku membuat frustasi semakin menjadi bahkan rasa menyesal menyerang begitu hebat.
Aku menangis hendak pulang namun kemana? Diri yang malang ini tak mempunyai rumah atau tempat yang disebut naungan, dan kepada siapa aku harus meminta tolong? Zayn kah? Tentu saja tidak!. Sudah terlalu banyak pertolongan yang ia beri hingga membuatku ketergantunggan, kali ini aku akan berusaha bangkit sendiri tanpa sahabatku itu sebab ku harus kuat!
Tambah kuat!.
tubuh tak berdaya bangkit dari posisi duduknya melawan rasa sakit disekujur raga “Kalau gitu aku tak boleh mati disini” berdiam disini menunggu pertolongan dan meratapi nasib hanya akan membuatku menemui ajal sebab sebaiknya aku bergegas pergi untuk meminta pertolongan orang agar menghentikan pendarahan ditanganku ini.
sebuah pisau yang kuselipkan dilingerie paha,ku tancapkan pada perutnya kemudian pisau itu ku paksa naik menuju jantung untuk merobeknya agar cepat melayang jiwanya tanpa harus merasakan sakit yang lebih, matanya terbelalak dan mobil menjadi tak stabil hingga kami menabrak sebuah pohon dengan menghantamnya sangat kuat sampai mobil mahal inipun tak lagi berbentuk.
Asap menyembul dari mesin yang rusak itu dan menerobos indra penciumanku membuat paru-paru terasa perih “Uhuk!!Uhuk!!” menyebabkan batuk parah,
Sedari tadi aku melindungi kepala dengan kedua tangan agar tak terbentur dan pingsan, kemudian ku tinjau ke sampingku yang mendapati pria buncit itu sudah tewas dengan sebuah kaca jendela mobil tertancap dari hidung menembus sampai kemata, aku meringis ngilu membayangkan jika berada diposisi itu.
Tak ingin berlama-lama segera kudobrak pintu mobil yang macet akibat benturan dan akhirnya terbuka jua namun saat hendak ingin keluar tak sengaja ku lirik kursi pengemudi tersebut dan ada sepucuk surat di kantong pria buncit itu yang menarik perhatianku, tangan meraihnya dan membawa benda tersebut keluar bersamaku meninggalkan mayat itu disana.
Jalanku tertatih-tatih saat luka memenuhi tubuhku terlebih lagi diarea dahi dan lengan yang sudah mengeluarkan banyak cairan merah kental amis nan anyir,mungkin benar aku tak tewas dimobil seperti sibuncit tapi tetap saja jika darah ini terus keluar tanpa henti maka bakalan mati juga karena kehabisan darah.
Aku mengumpat “Shit”
sementara itu keadaan disekeliling benar-benar tidak mendukung karena disini tidak ada orang ataupun rumah dan siapa juga yang mau tinggal ditengah-tengah hutan belantara seperti ini?
Dan lagi pandanganku sudah berbayang-bayang ketika melihat hutan yang gelap gulita tanpa cahaya selain sang rembulan malam,aku yakin ini efek dari darah yang mengalir sedari tadi.
Entah kemana tujuanku berjalan dan juga sudah sejauh apa langkah tertatih ini melaju yang ku tahu kini ia sudah letih tak lagi sanggup melanjutkan jadi kupilih untuk mengistirahatkannya sejenak, kurebahkan tubuh di tanah dan bersandar pada pohon besar,kulirik surat yang berada digenggamanku.
Seketika rasa penasaranku mencuat lalu juga jariku yang sudah gatal ingin membuka isi surat itupun perlahan merobek sisi atasnya kemudian mengeluarkan isinya,kubaca perlahan sambil berguman pelan
”Jemput gadis bernama adeline bruna dialamat xxxxxxx bawa dia kerumah pemilik perusahaan disana secepat mungkin…bagusnya jangan sampai dia lecet” tertera alamat dan fotoku disana membuatku bingung dan mencoba untuk memahami isinya. tiba-tiba aku tertegun
ketika paham dengan isinya yang berarti pria buncit tadi bukan calon suamiku melainkan bawahannya,alih-alih membebaskan diri yang ada sekarang aku akan menjadi buronan bahkan kembali menjadi seperti dulu yaitu pembunuh.
Lagi lagi?aku membunuh orang yang tidak bersalah,hatiku meringis perih dan pilu seakan luka lama terbuka lagi.
”harusnya aku tak mempercayaimu lily”ucapku frustasi berharap alteregoku bertanggung jawab dengan semua kejadian mengerikan ini, namun tak sepatah katapun keluar dari lily didalam lubuk hatiku membuat frustasi semakin menjadi bahkan rasa menyesal menyerang begitu hebat.
Aku menangis hendak pulang namun kemana? Diri yang malang ini tak mempunyai rumah atau tempat yang disebut naungan, dan kepada siapa aku harus meminta tolong? Zayn kah? Tentu saja tidak!. Sudah terlalu banyak pertolongan yang ia beri hingga membuatku ketergantunggan, kali ini aku akan berusaha bangkit sendiri tanpa sahabatku itu sebab ku harus kuat!
Tambah kuat!.
tubuh tak berdaya bangkit dari posisi duduknya melawan rasa sakit disekujur raga “Kalau gitu aku tak boleh mati disini” berdiam disini menunggu pertolongan dan meratapi nasib hanya akan membuatku menemui ajal sebab sebaiknya aku bergegas pergi untuk meminta pertolongan orang agar menghentikan pendarahan ditanganku ini.
Selangkah demi selangkah meski pelan namun pasti dan juga entah sudah sejauh apa diri ini menjauh dari tempat tadi yang kutau adalah gejolak rasa senang seketika meluap saat melihat ada sebuah rumah dilapisi cat merah maroon, tanpa pikir panjang aku segera kesana.
”Tok-tok”-
Kuketuk pintu coklat itu namun tak ada respon dari sang pemilik rumah, lama ku ketuk tapi pintu tak kunjung terbuka menyambut maka dunia gelap yang sedari tadi kutahankan sudah melahapku dengan cepat hingga tubuh terjatuh dilantai kotor nan dingin,kepala serasa sedang dihantam bogem mentah begitu pusing akibat kekurangan darah atau anemia.
”Tok-tok”-
Kuketuk pintu coklat itu namun tak ada respon dari sang pemilik rumah, lama ku ketuk tapi pintu tak kunjung terbuka menyambut maka dunia gelap yang sedari tadi kutahankan sudah melahapku dengan cepat hingga tubuh terjatuh dilantai kotor nan dingin,kepala serasa sedang dihantam bogem mentah begitu pusing akibat kekurangan darah atau anemia.
Apa aku akan mati?padahal baru saja semangat hidup kembali akan tetapi kematian tampaknya iri sehingga merebut kehidupanku--
|
|
|
Gadis itu dengan tubuh yang belum sembuh total mencoba membantu emily dengan sebisanya seperti mencuci piring, lap-lap meja dan lain-lain.lagian ia sudah biasa sebab dulu kerjanya pun seperti ini, saat sedang asik mengelap meja seseorang anak perempuan berumur sekisar 10 tahun, menabrak tubuh adeline dan terjungkal membuat lututnya terseret dilantai “Aduh!!”pekik anak itu saat tubuh kecilnya mencium lantai.
Adeline tak hanya diam ia segera menolongnya, membantu ia berdiri kembali yang sesaat setelahnya membuat gadis itu tercengang
kala mendapati bola mata yang sangat familiar baginya yaitu sihijau semu 7 tahun lalunya.
𝀺Ini bukan lah kesalahan saat kutinggalkan mereka dan pergi menjauh
sebab kini lihatlah telah kutemui seseorang baru,
alih-alih baik sebenarnya ada sebuah kemauan dibalik semuanya lalu apakah itu?
Apakah akan menambah penderitaanku atau justru mengurangi?
|
|
|
|
aroma therapy dan hangat menyelubungi tubuh ringkih yang kini sedang terbaring lemah dikasur kecil, perapian diruangan itu membantu memberikan kehangatan lebih untuk gadis berambut putih tersebut.
Sedangkan sesosok wanita cantik berkaca mata disampingnya tertidur pulas setelah sedari tadi spirit tumbuhan--yang identik dengan pengobatan mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk mengobati luka-luka yang ada pada gadis itu.
Wanita berkaca mata tersebut kaget saat melihat gadis itu tak sadarkan diri yang sudah bermandikan darah bahkan rambut putihnya pun banyak terkena banyak bercak darah, sungguh ketika melihat keadaan memprihatinkan sigadis membuat wanita itu tak tega, ia pun mengecek nadinya yang ternyata lemah tetapi memiliki kemungkinan untuk bertahan hidup jadi segera dibawanya kedalam rumah dan mengobatinya.
Ia mengerahkan segala spirit pengobatannya dengan tumbuh-tumbuhan yang berasal dari spirit tanaman miliknya menjadikan itu sebuah ramuan ampuh untuk mengobati sigadis secara cepat, dan setelah membuat semua itu tenaganya benar-benar terkuras kemudian ikut tertidur disamping sigadis
sama-sama memulihkan diri.
aroma therapy dan hangat menyelubungi tubuh ringkih yang kini sedang terbaring lemah dikasur kecil, perapian diruangan itu membantu memberikan kehangatan lebih untuk gadis berambut putih tersebut.
Sedangkan sesosok wanita cantik berkaca mata disampingnya tertidur pulas setelah sedari tadi spirit tumbuhan--yang identik dengan pengobatan mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk mengobati luka-luka yang ada pada gadis itu.
Wanita berkaca mata tersebut kaget saat melihat gadis itu tak sadarkan diri yang sudah bermandikan darah bahkan rambut putihnya pun banyak terkena banyak bercak darah, sungguh ketika melihat keadaan memprihatinkan sigadis membuat wanita itu tak tega, ia pun mengecek nadinya yang ternyata lemah tetapi memiliki kemungkinan untuk bertahan hidup jadi segera dibawanya kedalam rumah dan mengobatinya.
Ia mengerahkan segala spirit pengobatannya dengan tumbuh-tumbuhan yang berasal dari spirit tanaman miliknya menjadikan itu sebuah ramuan ampuh untuk mengobati sigadis secara cepat, dan setelah membuat semua itu tenaganya benar-benar terkuras kemudian ikut tertidur disamping sigadis
sama-sama memulihkan diri.
Cahaya matahari pagi menyelinap kedalam kamar berantakan penuh baju berserakan,mangkuk ramuan kotor, dan buku-buku pengobatan dilantai tetapi meskipun seperti itu kenyamanan disini masih sangat terjaga bahkan gadis yang sudah mengerjapkan mata lantaran sang mentari amat silau, tak ingin terbangun sebenarnya.
Netra hitam mengkelam menjelajahi seluruh isi ruangan tanpa melewati satupun karena tempat ini begitu asing membuat rasa bingung -Ia dimana- menyerang tiba-tiba, kemudian gadis yang sedari tadi celingak-celinguk mendapati seorang wanita cantik berpakaian minim,berambut coklat pendek dan berkacamata sedang tertidur disamping dengan posisi kepala ditempat tidur sedang tubuh bersimpuh pada lantai.
Netra hitam mengkelam menjelajahi seluruh isi ruangan tanpa melewati satupun karena tempat ini begitu asing membuat rasa bingung -Ia dimana- menyerang tiba-tiba, kemudian gadis yang sedari tadi celingak-celinguk mendapati seorang wanita cantik berpakaian minim,berambut coklat pendek dan berkacamata sedang tertidur disamping dengan posisi kepala ditempat tidur sedang tubuh bersimpuh pada lantai.
Gadis itu mencoba untuk bergerak menuruni tempat tidur namun seketika rasa ngilu ditulang menghantamnya membuat ia memekik sakit “Ahk!”
seseorang yang tidur tadi langsung tersentak bangun lalu membantu sigadis untuk kembali berbaring
”Jangan bergerak dulu karena ini belum sembuh total meski luarnya sudah tak berbekas namun didalam belum sepenuhnya telah kembali normal” jelas wanita itu membuat sigadis memiringkan kepala heran bukan karena penjelasannya namun sikap pedulinya.
”Siapa kau?” tanya gadis itu
”Aku?” sigadis mengangguk mengiyakan “Aku Emily Rivera, harusnya aku yang bertanya siapa kau dan kenapa bisa ada didepan rumahku dengan keadaan mengenaskan seperti tadi?” ujar wanita bernama emily antara menjelaskan dan meminta penjelasan.
”Aku adeline…Aku mengalami kecelakaan dihutan ujung sana” adeline mencoba menutupi kejadian tersebut dimana ia telah membunuh orang lain yang tidak bersalah,karena bisa sajakan setelah ia menceritakan hal itu wanita bernama emily ini mengusirnya.
“Kenapa tidak coba menghubungi keluargamu untuk meminta pertolongan?dimana ponselmu?”pertanyaan emily begitu bertubi-tubi membuat silawan bicara tergagap hilang akal hendak mau menjawab apa “Aku…aku…tidak punya ponsel dan keluargaku membuangku”.
emily tercengung saat mendengar kata --Dibuang-- sebab ia sendiri begitu ketika memulai karirnya didunia hiburan malam, senyum dan tatapan sendu ia lontarkan pada adeline enggan bertanya masalah pribadinya lagi sebab tak ingin membuka kembali luka itu “Tak apa kau bisa tinggal disini sesuka hatimu” jemari lentik emily menari-nari dipucuk kepala sigadis yang terdiam bertanya-tanya
--Mengapa ia begitu baik?--
”Lalu bolehkah aku tau apa spiritmu?karena tak bisa kukenali dari matamu yang hitam” emily bertanya antusias namun sebaliknya adeline malah pucat pasi sebab spiritnya adalah kematian, sigadis mencoba tenang dengan berdehem “Ehem…aku cuma gadis biasa tanpa spirit”.
karena pertanyaannya sudah dijawab meskipun kurang puas dia mengangguk iya tanda mengerti, Emily melirik arlojinya dan berteriak kaget “Sudah jam 7!sial aku telat” dia segera bergegas namun terhenti saat adeline gantian bertanya setelah sedari tadi diwawancarai
”Mau kemana?”
”Kerja”
”Hmm…boleh aku ikut?”
”Tidak” mendengar ini adeline melongos “kenapa?”
”Tentu saja karena kau belum pulih” jawab emily datar
adeline kembali bertanya “Apa pekerjaanmu?” , “Pagi sampai sore dicafe kalau malam dibar…tetap mau ikut?” mendengar itu kepala adeline langsung mengangguk iya seperti anjing mainan dimobil membuat emily memutarkan bola mata “Baiklah terserah”.
Mereka pergi kecafe tak jauh dari rumah emily,tempat itu begitu sederhana dan menyenangkan bahkan sesampai disana banyak orang menyapa mereka ramah, seketika adeline merasa sedikit ada rasa bahagia dilubuk hatinya meskipun hanya secuil.
seseorang yang tidur tadi langsung tersentak bangun lalu membantu sigadis untuk kembali berbaring
”Jangan bergerak dulu karena ini belum sembuh total meski luarnya sudah tak berbekas namun didalam belum sepenuhnya telah kembali normal” jelas wanita itu membuat sigadis memiringkan kepala heran bukan karena penjelasannya namun sikap pedulinya.
”Siapa kau?” tanya gadis itu
”Aku?” sigadis mengangguk mengiyakan “Aku Emily Rivera, harusnya aku yang bertanya siapa kau dan kenapa bisa ada didepan rumahku dengan keadaan mengenaskan seperti tadi?” ujar wanita bernama emily antara menjelaskan dan meminta penjelasan.
”Aku adeline…Aku mengalami kecelakaan dihutan ujung sana” adeline mencoba menutupi kejadian tersebut dimana ia telah membunuh orang lain yang tidak bersalah,karena bisa sajakan setelah ia menceritakan hal itu wanita bernama emily ini mengusirnya.
“Kenapa tidak coba menghubungi keluargamu untuk meminta pertolongan?dimana ponselmu?”pertanyaan emily begitu bertubi-tubi membuat silawan bicara tergagap hilang akal hendak mau menjawab apa “Aku…aku…tidak punya ponsel dan keluargaku membuangku”.
emily tercengung saat mendengar kata --Dibuang-- sebab ia sendiri begitu ketika memulai karirnya didunia hiburan malam, senyum dan tatapan sendu ia lontarkan pada adeline enggan bertanya masalah pribadinya lagi sebab tak ingin membuka kembali luka itu “Tak apa kau bisa tinggal disini sesuka hatimu” jemari lentik emily menari-nari dipucuk kepala sigadis yang terdiam bertanya-tanya
--Mengapa ia begitu baik?--
”Lalu bolehkah aku tau apa spiritmu?karena tak bisa kukenali dari matamu yang hitam” emily bertanya antusias namun sebaliknya adeline malah pucat pasi sebab spiritnya adalah kematian, sigadis mencoba tenang dengan berdehem “Ehem…aku cuma gadis biasa tanpa spirit”.
karena pertanyaannya sudah dijawab meskipun kurang puas dia mengangguk iya tanda mengerti, Emily melirik arlojinya dan berteriak kaget “Sudah jam 7!sial aku telat” dia segera bergegas namun terhenti saat adeline gantian bertanya setelah sedari tadi diwawancarai
”Mau kemana?”
”Kerja”
”Hmm…boleh aku ikut?”
”Tidak” mendengar ini adeline melongos “kenapa?”
”Tentu saja karena kau belum pulih” jawab emily datar
adeline kembali bertanya “Apa pekerjaanmu?” , “Pagi sampai sore dicafe kalau malam dibar…tetap mau ikut?” mendengar itu kepala adeline langsung mengangguk iya seperti anjing mainan dimobil membuat emily memutarkan bola mata “Baiklah terserah”.
Mereka pergi kecafe tak jauh dari rumah emily,tempat itu begitu sederhana dan menyenangkan bahkan sesampai disana banyak orang menyapa mereka ramah, seketika adeline merasa sedikit ada rasa bahagia dilubuk hatinya meskipun hanya secuil.
Gadis itu dengan tubuh yang belum sembuh total mencoba membantu emily dengan sebisanya seperti mencuci piring, lap-lap meja dan lain-lain.lagian ia sudah biasa sebab dulu kerjanya pun seperti ini, saat sedang asik mengelap meja seseorang anak perempuan berumur sekisar 10 tahun, menabrak tubuh adeline dan terjungkal membuat lututnya terseret dilantai “Aduh!!”pekik anak itu saat tubuh kecilnya mencium lantai.
Adeline tak hanya diam ia segera menolongnya, membantu ia berdiri kembali yang sesaat setelahnya membuat gadis itu tercengang
kala mendapati bola mata yang sangat familiar baginya yaitu sihijau semu 7 tahun lalunya.
𝀺Ini bukan lah kesalahan saat kutinggalkan mereka dan pergi menjauh
sebab kini lihatlah telah kutemui seseorang baru,
alih-alih baik sebenarnya ada sebuah kemauan dibalik semuanya lalu apakah itu?
Apakah akan menambah penderitaanku atau justru mengurangi?
Sungguh ku tak lagi paham dengan kehidupan yang penuh timbal balik ini.
maaf lama update dikarena kondisi kesehatan sedang memburuk tapi diusahakan bab 5 akan up hari selasa--
jangan lupa komentar dan share ya !!!dukungan kalian sangat berarti untukku.
Mkin bagus min! Lanjtkan ��
BalasHapusLanjutkan sayang
BalasHapusJaga kesehatannya dongthor biar cpt update😊
BalasHapusSuka ceritanya bin makin bkin penasaran 😁
BalasHapusKapan update lgi bin?
BalasHapusMau tanyaa? Spirit itu apa? Krg tausoalnya😁
BalasHapusSpirit itu kekuatan yang biasa dimiliki setiap tokoh didalam cerita diatas,
HapusTerbagi jadi 2:
Spirit biasa dan tidak biasa
Spirit biasa seperti kekuatan dalam pengobatan, api, air,tanah,angin dll.
(Ditandai dengan bola mata terang)
Tidak biasa seperti memiliki kekuatan bisa membunuh, mengendalikan pikiran, sihir dll (ditandai dari bola mata redup/gelap)
Terima kasih sudah bertanya☺dan mampir untuk membaca