Jumat, 17 Mei 2019

Bab 7--Definisi Menerima Dalam Hidup

Dia berdiri disana dengan air mata jatuh kedalam
tiba-tiba menatapmu penuh iba
 hatinya pun bergetar ingin memaafkan walau logika berteriak tidak
ini bukanlah kesalahan tetapi melainkan kebenaran yang dinaifkan saat harga diri sangat menjunjung tinggi.
melupakan sebuah hati yang ingin berdamai agar lekas sembuh siluka perih dihati
serta merta menghilangkan dendam kesumat yang tak kunjung usai.
|  
       Bab 7                                                 
|Definisi Menerima Dalam Hidup|


"Hahaha...kau benar-benar aneh." Ujar Emily seraya memegangi perutnya
"Diamlah dan cepat pakai."
"Pakailah , aku tidak membutuhk..."
 "Apa itu?...sebuah lambang Dewa ditengah-tengah dadamu?." Kini matanya tertuju pada sebuah lambang yang tak asing baginya, Sedangkan jantung Adeline memacu seolah-olah ia sedang berlari berkilo-kilo meter. Inilah alasannya ia benci pakai baju yang memperlihatkan lambang sialannya didada itu.
Emily mencoba menyentuhnya namun ditepis Adeline "Jangan sentuh." Ujarnya dingin
"Kau keturunan dewa?!." pekik Emily.

Suara teriakan Emily itupun mengundang mata dan telinga banyak orang membuat Adeline terpaksa membungkam mulutnya dengan tangan dan memberikan tanda untuk mengecilkan suaranya
"Sttss...tutup mulutmu!." Emilypun mengangguk iya.
"Jelaskan padaku." Titah Emily membuat lawan bicaranya menghembuskan nafas lelah
"Mari pulang dulu,nanti akan kujelaskan semuanya." Ajak Adeline.
Emily menatap ragu namun tetap mengangguk ajakannya.
 Mereka kembali kerumah dengan Taxi hingga sesampaiannya disana Adeline langsung mengunci pintu dan menarik Emily keruang tamu untuk mencari tempat yang pas buat menjelaskan segala kebohongan-kebohongannya selama seminggu ini pada wanita berkacamata digenggamannya itu.

 “Duduklah dulu.” Ujar Adeline menawarkan yang dituruti Emily, Mereka duduk saling berhadap-hadapan disofa ruang tamu
entah mengapa perasaan ini tidak asing bagi Adeline.


Adeline menarik nafas lalu menghembuskannya dengan berat seakan sedang menahan begitu banyak beban hidup
“Aku heran, sewaktu kau mengobatiku kenapa lambang ini tidak kelihatan?.” Tanya Adeline membuat Emily memutar otak menyadari kalau kemarin saat ia mengobati gadis itu, bagaimana mau kelihatan toh yang luka itu dibagian kepala dan tangan kenapa pula ia harus membuka baju gadis itu sedangkan lukanya diluar “Luka mu diluar bukan didalam jadi aku sama sekali tidak tau kalau kau mempunyai lambang itu didadamu.” Jawab Emily.

Mendengar penjelasan Emily ia pun langsung mengerti  dan mulai menceritakan siapa dirinya bahkan juga menceritakan pertemuannya dengan sibocah lelaki bermata hijau semu yang mirip dengan Ariana. Hingga sipendengarnya menjadi diam membisu terlalu menghayati jalan cerita masa lalu gadis bermata hitam itu.

“Kau membunuh mereka tanpa sadar karena sedang dikendalikan oleh Lily? Sisi lainmu itu.” Tanya Emily. “Termasuk membunuh pria buncit itu?.”Lanjutnya saat ia sudah selesai menyimak segala cerita panjang kali lebar lawan bicaranya. Adeline mengangguk mengiyakan.


  “Baiklah aku takkan menyalahkanmu atas kematian pria dan mereka karena juga ini bukanlah kemauanmu tetapi takdir yang telah menentukan dan satu hal yang harus kau lakukan…mulai sekarang belajarlah untuk tidak mengikuti kata Alter-egomu, dia adalah boomerang bagi dirimu sendiri…terlepas dari kalian yang satu tubuh, dia adalah sisi burukmu yang harus kau musnahkan keberadaannya.” Saran dari Emily membuat gadis itu tertegun sadar kalau semua ucapan itu benar apa adanya tentang Alter-ego—Lily yang seringkali menjebaknya dalam ribuan masalah.

Adeline bungkam dan menatap kakinya yang sudah memerah akibat memakai heels merah Emily karena sedari tadi ia sudah banyak terplekok namun ditahankannya demi memperindah kaki jenjangnya dan dilihat oleh tamu-tamu dibar beberapa saat lalu. Entah mengapa saat ini ia takut wanita berkacamata itu mengusirnya lalu jika itu terjadi lantas dimana ia akan tidur dan bernaung?.

  Emily kembali membuka suara, “Tak apa tenanglah aku takkan mengusirmu meskipun tau tentang identitas aslimu, hanya saja aku tidak percaya keturunan dewa sepertimu masih ada sampai sekarang.” Ia berjalan mendekati Adeline dan memeluknya seakan ingin mengurangi beban hidup gadis itu dengan memberikan sebuah dekapan hangat.
“Emily?.” Panggilnya pelan disela-sela pelukan
“Iya Adel?.”
Jemari gadis itu meremas kaos hitam Emily dan mulai terisak “Kenapa kau begitu baik? padaku?.”. Mendengar itu Emily tersenyum tipis dan menatap sendu perapian yang sedari tadi menghangatkan mereka, “Kau tanya kenapa?.” Ucapnya memberi jeda. “Karena kehadiran mu mengingatkan ku pada guruku dulu, ia dicampakkan oleh keluarganya sendiri karena memiliki darah penyihir yang dia dapatkan dari kakeknya, Kekuatan sihirnya benar-benar hebat tapi mengerikan sehingga keluarganya sendiri takut padanya kemudian mengusirnya…kalian punya nasib yang sama jadi bagaimana bisa kuabaikan dirimu? Apalagi sikap datar namun lembut itu benar-benar sama…kau bagai reinkarnasinya.” Wanita berkacamata tersebut melepas kacamatanya dan mengelap bulir-bulir yang berjatuhan disana setelah ia menjelaskan alasan mengapa dirinya begitu peduli pada Adeline.


     Gadis yang mendengar semua penuturan Emily kini melepas pelukannya kemudian menatap wanita didepannya dengan mata berkaca-kaca lalu ia memberikan sebuah hal tak terduga yaitu

Senyuman paling bahagia yang tak pernah ia berikan pada siapapun,
 Mendapati senyuman itu hati Emily sungguh merasa hangat. –Seharusnya anak ini harus lebih rajin tersenyum seperti sekarang—Ucap Emily dalam hati.
“Ada lagi yang mau kau tanyakan?.” Tawar Emily dijawab anggukan Adel. “Apa kau mengingat Riana?.”
“Iya aku ingat,kenapa?.”
 “Matanya…mata…nya mirip dengan bocah itu.” Ucapnya terbata-bata membuat Emily memutar otak mengingat sesuatu.
“Mungkin dia adiknya.” Ucap Emily menimbulkan kerutan didahi Adel. “Adiknya?.” Emily mengangguk membenarkan.
“Karena Riana mempunyai seorang kakak laki-laki 3 tahun diatas mu bisa jadi itu diakan?.” Ujar Emily seraya mengidikkan kedua bahunya.
“Emily!.” Panggil Adeline. “Dimana aku bisa menemuinya?.”.
“Apa yang mau kau lakukan?.” Tanya balik Emily padanya. “Tentu saja ingin meminta maaf.”
Mendengarnya membuat wanita berambut pendek itu menghela nafas, “Percuma aja karena rumah besarnya dijaga ketat jadi tidak boleh sembarang masuk kesana.”. Adeline memincingkan mata “Bagaimana kau tau?.”


Emily menepuk jidatnya “Aku lupa memberitahumu kalau mereka adalah Putra dan Putri mahkota kerajaan Admeta makanya aku bisa tau tentang mereka jadi tentunya sangat sulit untuk ditemui bahkan pertemuanmu dengannya kemarin adalah keberuntungan.” Jelas Emily lalu terdiam sejenak memberikan jeda pada ucapannya yang akan berlanjut
“Ahh atau tidak juga hahaha…karena Riana sering berkunjung diCafe Green jadi akan mudah untuk kita menemuinya dan memintanya melakukan Se…su…a..tu...” Sehabis Emily mengatakan itu sebuah senyum atau lebih tepatnya seringaian licik bertepak manis diwajahnya menghilangkan kesan cantik yang digantikan mengerikan. Melihat itu entah mengapa bulu kuduk Adeline berdiri semua.

“Sesuatu?.”

|
|
|
|At different place|

Seorang anak kecil perempuan sedang berjalan lemas menuju Green Café diujung sana, dengan kakinya yang serasa ingin lepas dari tubuh namun tak kunjung terlepas jua, wajah cantiknya terlihat sangat lelah saat mengendong tas sekolah yang berat berisikan buku-buku tebal didalamnya.
  Kali ini seperti biasa tanpa pengawal ia kembali kecafe itu untuk menghilangkan capek raga dan batin setelah seharian penuh dikuras oleh sekolahannya tanpa ampun ataupun belas kasih. Ia benar-benar butuh refreshing sejenak dicafe itu.

Pintu café terbuka dan terdengarlah suara lonceng tamunya mengisi ruangan sepi itu hanya ada dua pelayannya disana tanpa ada pengunjung membuat hatinya bersorak gembira karena kalau ia memesan makanan pasti datangnya akan cepat.
 “Pelayan!.” Panggilnya
tak butuh waktu lama pelayan itu datang dengan membawakan menu “Pesen apa Riana?.” Suara datar namun lembut menyapa telinga Riana membuatnya terkejut saat menyadari kalau ternyata Adelinelah yang sedang melayaninya. Entah mengapa ia menjadi gugup
“O…Om…tch! Omelet saja dan minumannya green tea hangat.” Ucapnya bersalahan hingga menimbulkan rona merah dipipi putihnya. Dia malu.

    Melihat itu Adeline terkekeh pelan membuat Riana benar-benar terkesiap saat mendengar suara tawa Adeline begitu merdu dan halus –Apa dia sudah belajar cara nya tertawa dan bereksrepsi?—itulah pertanyaan dibenak Riana sedari tadi.
    “Tenang aku takkan membunuhmu, jadi jangan gagap seperti itu.”
 Rasa kagum yang sempat menghinggapi hati Riana tiba-tiba menghilang begitu saja saat mendengar kalimat mengerikan itu,“Apa maksudmu?.” Tanyanya namun tak terjawab saat Adel pergi kearah dapur seraya membawa pesanannya.

Sungguh kini kepalanya yang sudah pusing sekarang makin pusing saat mendengar ucapan Adel, Bahkan kini tidak bisa lagi berfikir jernih. Dia duduk dimeja sambil memijat dahi berusaha mengurangi rasa sakit dikepalanya. 


Entah sudah berapa lama dipijatnya area dahi dan pangkal hidung sehingga tampak memerah seperti orang masuk angin membuat seseorang dihadapan tertawa lucu lantaran sedari tadi sudah disana sambil meletakkan pesanan Riana dan menikmati ekspresi sakit kepala sianak perempuan tersebut. “Hahaha, apa kau seorang badut?” ejek Adeline

Mendengar itu hati Riana merasa jengkel seketika “Tutup mulutmu!” titahnya namun diabaikan Adeline yang kini tertawa semakin deras “Hahaha, oke baiklah aku akan berhenti bila kita bisa berbicara sebentar.” Tawar gadis berambut putih itu membuat Riana memincingkan mata mencoba menduga apa yang diinginkan oleh gadis didepannya ini.


“To the point, what do you want?”
“Aku Cuma mau kau jujur tentang tujuanmu sebenarnya.”
Jawab Adeline sontak membuat Riana tercengang namun ditutupinya dengan wajah datar “Apa maksudmu?” tanya berpura-pura. “Cih!, Jangan mencoba untuk mempermainkanku bocah!”.
belum sempat ia menggelak lagi, Adeline sudah kembali memotong
“Aku tau siapa dirimu,matamu tidak asing bagiku. Jujurlah Riana kalau kau adalah salah satu korbanku kan?. Yang pernah aku bunuh orang tuannya” Gadis itu mengucapkan hal tersebut dengan nada intimidasi yang sangat mengerikan bahkan membuat udara diseluruh ruangan café ini telah habis sehingga menyulitkan Riana untuk bernafas.
“Ka… “ ucapan Riana lagi-lagi terpotong. “Aku takkan menyakitimu jika kau mau mempertemukanku dengan kakak laki-lakimu.”
Riana diam tak bergeming memikirkan sesuatu hal yang mungkin sangat buruk jika ia mempertemukan mereka
“Apa yang mau kau lakukan?” tanya Riana penasaran. “Bukan urusanmu.”
Sungguh mendengar jawaban Adeline, rasa jengkel dihati Riana semakin bertambah apalagi saat melihat ekspresi senyum tak dapat diartikan sedang berhadapan dengannya. 


Adeline menghela nafas ketika ia bisa melihat sorot mata ketakutan ditatapan Riana “Aku hanya ingin minta maaf.” Ujarnya berusaha menyakinkan. “Hanya itu?” tanya Riana. “Iya hanya itu.”

Tanpa menimbang-nimbang lagi akhirnya Riana mensetujui permintaan Adeline dan berjanji akan membawanya besok kerumah untuk saling mempertemukan dua insan yang saling mencari satu sama lain dengan tujuan yang berbeda tersebut.

    Ia tidak akan pernah menyangka hal buruk apa yang akan menimpanya besok, terpenting sekarang Riana hanya bisa berdoa semoga mereka bisa meredam dendam lalu memilih berdamai saja agar bisa belajar hidup bahagia tanpa ber-iringan dengan Dendam.

Sedangkan wanita berkacamata menatap Riana instens lantaran entah mengapa wajahnya sangat familiar dengan seseorang yang pernah hadir dikehidupannya. Terlalu focus terhadap objek diujung sana membuatnya terkejut saat tepukan bahu pelan menyapanya “Hey!,Pamali ih melamun depan pintu…ngintilin siapa  sih?” ucap seorang pelayan laki-laki tak lain teman seperkerjaan dengan Emily. “Ish!kebiasaan!suka kali ngagetin orang. Cabut sana Joe” usirnya kepada pria bernama Joe itu namun diabaikan.

“Eh! Mel! Kau bayar berapa Bos?sampai mau minjemin cafenya buat acara basa-basi gini doang” tanya Joe yang ternyata alasan café tersebut sepi karena sudah dipesan dan diatur oleh Emily. “Bukan rusanmu!” setelah mengucapkan itu ia pergi meninggalkan Joe yang menatapnya kesal karena tidak dijawab pertanyaannya.



"Ternyata berhasil." gumamnya seraya tersenyum miring.



Disisi lain otak Adeline sedang bekerja memikirkan cara agar malam ini dia bisa bertemu dengan seseorang yang akan ia minta tolong-ngi untuk membantunya melancarkan sebuah susunan rencana yang sudah dia buat dalam otaknya. Jangan tanya bagaimana bisa gadis itu mengingatnya karena sangat mustahil untuk menjelaskannya. Hanya dia dan tuhan yang dapat menjelaskan.

Gadis itu berjalan mendekati Emily yang sedang mencuci piring didapur. “Emily?” panggilnya.
“Iya Del?” sahut Emily 
“Aku mau keluar sebentar nanti malam untuk mencari angin.” Ungkap Adeline dianggukin wanita berkacamata itu. “Yasudah,tapi ingat!jangan,pulang malam-malam” ingat Emily pada gadis itu.
dia tidak mau Adeline dalam masalah lagi sudah cukup kemarin-kemarin saja.
“Baiklah.”

Gadis itu kembali lagi kedepan untuk menutup cafenya setelah Riana pulang karena sebenarnya Emily sudah menyewa café itu sehari hanya demi menjalankan rencananya semalam jadi jika semua sudah selesai mereka akan menutup café dan berisitirahat. Jarang-jarang bisa istirahat secepat ini.

Atau akan lebih sering karena mengingat dia sudah tak lagi bekerja dibar itu. 
|Flasback--|
|
|
|
“Ahh atau tidak juga hahaha…karena Riana sering berkunjung diCafe Green jadi akan mudah untuk kita menemuinya dan memintanya melakukan Se…su…a..tu...” Sehabis Emily mengatakan itu sebuah senyum atau lebih tepatnya seringaian licik bertepak manis diwajahnya menghilangkan kesan cantik yang digantikan mengerikan. Melihat itu entah mengapa bulu kuduk Adeline berdiri semua.



“Sesuatu?” tanya Adeline 

Emily menautkan kedua telapak tangannya dan meletakkan dagunya disitu seraya tersenyum dan mulai menjelaskan rencananya. “Aku ingin kau mengertak Riana besok. Buat dia seolah tersudutkan dan mulai merasa takut dengan sikap barumu,lalu setelah dia takut kau cobalah untuk memaksanya menjelaskan semua rencananya dengan bilang kalau kau tau bahwa Riana dan kakak laki-lakinya adalah korbanmu.” Emily menatap lurus dan kembali melanjutkan ucapannya. “Disitu dia akan merasa ragu tapi jika kau memintanya untuk mempertemukanmu dengan kakaknya pasti dia akan melakukan hal tersebut.”

Adeline menyimak dengan baik namun ada beberapa hal yang ia bingungkan. “Sikap baru? Dan mengapa kau sangat yakin dia akan mau melakukan hal itu?” Adeline menatap lawan bicaranya meminta sebuah penjelasan lebih detail.

  “Tentu saja dia akan melakukan itu karena kau adalah pelaku yang ingin meminta maaf,naluri adik yang ingin kakaknya hidup damai pasti ada makanya dia akan mempertemukan kalian dan mencoba menghentikan dendam lama itu.” Jelas Emily panjang lebar dan masih berkelanjutan. “Untuk itu kubutuhkan ekspresi agar ia makin percaya kalau kau tulus ingin meminta maaf. Jika kau mengatakan ingin minta maaf dengan wajah datar dan dingin seperti itu maka aku percaya Riana akan mengabaikan permintaanmu.”

--Ekspresi?bahkan kemarin aku mencoba senyum  saja hasilnya mengerikan apalagi dengan macam-macam ekspresi lainnya sungguh tak terbayang—tutur Adeline dalam hati.

“Kau pasti bercanda soal ekspresi.” Sergah Adeline tetapi digelengi oleh wanita bernetra hijau itu tandanya ia tidak sedang bercanda. “Malam ini akan kulatih kau caranya tersenyum dan ekspresi lainnya.” Mata Emily begitu berbinar tak sabar menanti wajah cantik gadis itu saat menggunakan ekspresi lain selain datar dan dinginnya. –Pasti sangat cantik—serunya dalam hati.



Dan benar saja semalaman penuh mereka berlatih bahkan Emily yang awalnya antusias kini mulai menyerah, begitu ia merasa kesusahan mengajari Adeline untuk tersenyum,Smirk,tertawa, dan sedih. 

--terbuat dari apa wajah anak ini sampai segitu kakunya dalam menunjukkan mimic wajah—keluh Emily dalam hati.

Tbc~


Up insyallah setiap hari sabtu-minggu❤

Menulis sebuah cerita fiksi/khayalan penuh emosional dan konflik yang biasa terjadi dikehidupan nyata. aku penulis bebas,memiliki imajinasi luas dan juga masih remaja bila prosa atau majas bersalahan mohon letak kritikan halus agar bisa menjadi lebih baik. salam cinta--Segala kisah--

1 komentar:

Kontak Penulis

Contact Us

Diberdayakan oleh Blogger.