Selasa, 02 April 2019

Bab 2--Hidup menguras emosi--



Lagi dan lagi mengapa materi begitu membutakan?
Sehingga sanggup mengabaikan hati yang memberontak memaafkan tetapi logika memaksa
untuk tetap menyembunyikan.
  

--Bab 2--Hidup menguras emosi--
Aku tak habis pikir pada dua pasangan paruh baya didepanku yang menatap dengan tatapan tak bisa kuartikan,sedari tadi diruang tamu sederhana ini kami berkumpul hendak membicarakan hal penting masing-masing tapi kini hening menempati lalu untuk apa berkumpul layak ada meeting dan memasang muka serius seperti ada kejadian genting.



    Ingin ku buka pembicaraan tapi takutnya hanya akan ada penolakan karena sekarang didepan mereka sudah ada amplop putih berisikan undangan untuk masuk Universitas tertinggi didaerah ini,aku mendapatkan itu dengan kerja keras dan upaya sendiri bahkan uang sekolah tak pernah sepersenpun keluar dari mereka melainkan hasil kerja paruh hariku setiap hari.

Hendak ku ajukan itu pada mereka,

    Aku tau mereka bukan tidak bisa membiayaiku layak keluarga lain tetapi mereka hanya tidak mau  dan sengaja membuatku tidak betah disini kemudian keluar dari sini dengan segera.
 Aku tau jauh dilubuk hati mereka ada rasa sayang tetapi didominasi oleh ketakutan dan kebencian terhadapku dimasa lampau.

  Kuhembuskan nafas pelan lalu menatap datar mereka “Aku akan pergi dari sini dan tinggal didaerah dekat tempatku kuliah nanti dan hanya itu yang mau kubicarakan”jelasku seraya berdiri hendak meninggalkan ruang tamu namun pria yang harusnya ku panggil ayah menahan lenganku dan menegaskan kalau pembicaraan belum usai “Duduklah,ini belum selesai”.

bokongku kembali menyentuh sofa dan menatap mereka instens
  “Kau,tidak boleh kuliah karena kau sudah kami jodohkan dan akan segera menikah”wanita bernetra hitam memandang angkuh kearahku membuat darah mendidih seketika 
 
”Sialan kalian…Shanny,fernando kalian tidak punya hak dengan siapa aku harus menikah!kalian pikir kalian siapa dihidupku hanya sementang aku menumpang disini bukan berarti kau berhak mengaturku seenak kalian saja!”tanganku mengepal penuh emosi tetapi nada dan ekspresi masih saja datar tak sesuai kalimat yang penuh emosional.

”Jaga bicaramu pada orang tua kandungmu ini Adeline!”suara bass ayah--ahh fernando maksudku menggelagar memperingatiku tetapi ku balas dengan senyum miring


,kandung?apa lidahnya itu sedang kepleset, telingaku benar-benar geli mendengarnya.



”Kali ini berapa banyak mereka memberikan uang?”telak!ucapanku tepat mengenai sasaran sehingga dua pasangan itu diam tak bergeming.

Aku tertawa renyah “Hahaha…sudah kuduga,kalian menjual ku?pada siapa?pria buncit ber-istri lima”lanjutku sambil memaksakan wajah dengan ekspresi geli yang begitu susah kulakukan.


“PLAK!!!”


Pria tua yang tadi membentakku entah sejak kapan ia sudah dihadapan dan menamparku sekuat tenaga, rasa sakit menjalar secepat kilat didaerah pipi dan juga hatiku yang sekarang terasa amat nyeri saat menerima perlakuan kasar ayahku sendiri.

 Apa aku salah bicara sehingga ditampar begitu kuat?aku hanyalah menguak fakta lalu dimana letak kesalahanku!!.

   Refleks mata hitamku berubah merah menandakan emosi sudah diubun-ubun sebisa mungkin ku tahan hasrat membunuhku kepada mereka, karena apapun yang terjadi aku akan membunuh siapapun kecuali mereka--kedua orang tuaku.

Dan akupun tau ada seseorang yang menjerit menuntut membunuh orang yang menyakitiku lebihnya tepatnya kami yang satu tubuh.
“Bunuhlah kami seperti kau membunuh mereka!”kali ini ibu berteriak menantangku saat melihat perubahan yang biasa mereka sebut Monster. Lagi-lagi ia menoreh luka pada hatiku,aku sangat membenci panggilan itu.


  Kenapa aku tidak dilahirkan dengan kekuatan mereka saja?Ibu.Shany terresia bruna--Spirit tanah lalu ayah.Fernando yerzio bruna--Spirit air,tidak ada satupun dari spirit mereka yang menurun pada malah sebaliknya yaitu kekuatan mengerikan layak monster mengalir padaku. Ku tenangkan hati berusaha merendam amarah kemudian menatap mereka tepat kedalam jiwanya

Lalu mengatakan “aku akan setuju dengan pernikahan ini tapi nanti selesai aku tamat sekolah,lagipula selama ini aku patah karena kalian,tersakiti dengan amat dan sangat demi kebahagiaan kalian jadi kuputuskan untuk menerima tawaran ini…mengabaikan ketidakbahagiaanku seorang,mungkin aku diciptakan tuhan semata-mata hanya untuk menyenangkan kalian bukan diriku sendiri”untuk pertama kalinya sejak 8 tahun yang lalu aku tersenyum bukan bahagia melainkan kecewa,kecewa pada mereka,kecewa pada tuhan dan kecewa pada hidupku yang terlalu tragis.



   Dapatku lihat airmata berkumpul dipelupuk mereka tetapi tertutupi oleh buangan muka kearah lain enggan menatapku,dengan cepat kuambil amplop tadi dan membuangnya ke perapian didepan mereka lalu segera pergi dari tempat itu.




Saat ini hati,jiwa dan raga begitu amat merasa lelah


setelah semua kesalahan ku pikul sendiri


setelah mereka puas menoreh begitu banyak luka
  Sampai-sampai sisi lainku ikut merasa perihnya,ia juga tak salah telah menjadi penyebab insiden itu sebab yang salah adalah pencipta kami.


Mengapa?dan entah apa tujuannya membuat kami harus menjalani hidup seperti ini


berdosalah aku saat menyalahkanmu tuhan


karena sekarang tiada lagi ada yang bisa kusalahkan
 Selain dirimu.

Menulis sebuah cerita fiksi/khayalan penuh emosional dan konflik yang biasa terjadi dikehidupan nyata. aku penulis bebas,memiliki imajinasi luas dan juga masih remaja bila prosa atau majas bersalahan mohon letak kritikan halus agar bisa menjadi lebih baik. salam cinta--Segala kisah--

9 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Apa yang terjadi setelah kau salahkan tuhan mu..?

    Ayoo min lanjutkan aku penasaran nungguin cerita selanjutnya.

    BalasHapus
  3. Apa yang terjadi setelah kau salahkan tuhan mu..?

    Ayoo min lanjutkan aku penasaran nungguin cerita selanjutnya.

    BalasHapus
  4. Wah kak Mei.... Lanjutin yaa... Penasaran nihh🙄

    BalasHapus
  5. Ship mereka boleh?🤔😆

    BalasHapus
  6. Terlalu pendek kak 😤👌

    BalasHapus

Kontak Penulis

Contact Us

Diberdayakan oleh Blogger.